Laman

Rabu, 02 Januari 2013

Pemerolehan Morfologi Usia Empat Tahun


BIODATA ANAK
Nama               : Ahmad Rijalin Masud
Kelahiran         : Palembang, 18 April 2008
Umur               : 4 Tahun 6 Bulan
Berat               : 25 kg
Tinggi              : 96 cm
Anak               : 2 dari 3 Saudara


Orang Tua
Nama Ayah     : Ibnu Hajar
Kelahiran         : Padang, 28 Juni 1978
Alamat                        : Jl. Talang Kacang, Pangkalan Balai Banyuasin III
PB                   : Padang-Melayu-Indonesia
Agama             : Islam
Pekerjaan         : Wiraswasta

Nama Ibu        : Masyitoh Isza
Kelahiran         : Pelajau, 01 November 1978
Alamat                        : Jl. Talang Kacang, Pangkalan Balai Banyuasin III
PB                   : Melayu-Indonesia
Agama             : Islam
Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga


BAB 1
LATAR BELAKANG PENELITIAN
1.1  SUBJEK DAN LATAR BELAKANG ORANG TUA

Subjek penelitian adalah Ahmad Rijalin Masud, yang sehari dipanggil “Ahmad”. Dia dilahirkan pada tanggal 18 april 2008 di Rumah Bersalin “Dona” Palembang. Dia lahir dalam keadaan normal, baik secara fikik maupun mental. Berat Badan waktu lahir 2.6kg dan panjang 52cm.
Ibunya, Masyitoh Isza dengan panggilan “Ito” adalah kelahiran Pelajau, Pangkalan Balai Tahun 1978. Pernah menjadi tenaga pengajar di TK. Aisyah yang sekarang di ubah menjadi TK. Muhammadiyah di Pangkalan Balai karena pendidikan terakhir umi masyitoh adalah PGTK di Palembang.
Ayahnya, Ibnu Hajar dengan panggilan “Uda ibnu” adalah kelahiran Padang (Pariaman) 1978 dan berwirausaha (berdagang) dan berbisinis. Sejak berusia 2 Tahun Ahmad pernah tinggal di Padang kurang lebih 1 Bulan dan dengar cerita dari sang umi, disana dia mengamati bahasa nenek dan uni nya yang menggunakan bahasa yang lumayan cukup rumit untuk anak seumuran Ahmad, dan teman bermainya pun menggunakan bahasa yang sama seperti neneknya di Padang, lambat laun Ahmad pun pandai berujar dengan logat Padang walaupun sedikit-sedikit, hampir satu bulan Ahmad disana tampak menguasai bahasa Padang ayahnya pun sangat antusias dengan mengajari secara kognitif dengan Ahmad. Saat Ahmad kembali ke Pangkalan Balai daerah asal ibunya hingga umur empat tahun ini lama kelamaan Ahmadpun menghilangkan logat bahasa padang yang dan menggunakan bahasa melayu-indonesia.
Ahmad anak yang sangat aktif diantara teman-temannya, dilihat dari penelitian ini dia selalu menjadi teman yang menyenangkan bagi teman-temannya, karena anaknya kritis dan selalu bertanya, dan memulai terlebih dahulu dalam teman-teman yang sudah mengenalnya, Ahmad termasuk anak yang riang dan terbuka dan dia sering membantu ibunya mematikan air panas ketika adiknya “Khofifah Azkiah” ingin mandi dengan air hangat, Ahmad juga sangat menyayangi kakak dan adiknya itu nampak dari perhatiannya kepada kedua saudaranya. Ahmad juga rajin mengaji dan menghapal surah pendek yang terdapat pada Al-Quran. Itu bimbingan ayahnya yang kesehariannya menjadi Imam di Masjid tepatnya didaerah Talang kacang.
1.2  BAHASA SANG IBU
           
Bahasa Sang Ibu (motherese) yang dipakai keluarga Ahmad adalah bahasa Melayu-Indonesia karena orangtua Ahmad banyak menggunakan bahasa melayu dan tak jarang ibunya menggunakan bahasa indonesia dan juga ada sebagian ayahnya yang terkadang menggunakan bahasa padang untuk memperkenalkan bahasa Pb2 nya.


1.3 TUJUAN PENELITIAN
           
Topik ini sangat menarik untuk saya pribadi karena pengalaman saya baru kali ini meneliti pemerolehan bahasa bagi anak yang berusia 3-5 Tahun, dengan adanya penelitian ini banyak yang berperan dengan adanya konsep-konsep yang universal yang ikut berperan dan dapat mengetahui perkembangan anak usia dini dengan pertumbuhan neurologinya maupun biologinya. Ini adalah pengetahuan yang sangat luar biasa karena makhluk yang sangat sempurna diciptakan dengan perubahan-perubahan dari tiap tahun nya yang menuju ketahap kesempurnaan jika benar-benar di ajarkan sejak dini. Saya sangat bersyukur sekali dengan materi penelitian bahasa ini dengan ini saya dapat mengembangkan seberapa jauh konsep universal yang dimiliki tiap anak dengan latar belakang yang berbeda-beda.
1.4  PROSEDUR PENGUMPULAN DATA
           
Data dikumpulkan secara naturalistik dengan tambahan stimulus untuk memunculkan respons tertentu. Yang pertama dipakai adalah Kamera handphone nokia C3 dan video nokia X2. Pengumpulan data dimulai pada hari Sabtu, 10 November 2012 tepatnya dirumah Ahmad dan saat itu ahmad sedang bermain dengan teman sepermainannya dan setiap satu minggu saya mengambil data dan kala itu saya mengajak Ahmad mengunjungi di Taman Perkantoran Banyuasin dan kebanyakan aktifitas pengumpulan data Ahmad di rumah nya.
1.5  ANALISIS DATA
           
Menganalisis data Morfologi Analisis seperti ini dimaksudkan pula untuk menentukan urutan pemunculan, bila memang ada. Untuk menentukan apakah munculnya suatu elemen telah merupakan cerminan dari potensi si anak atau baru merupakan tiruan belaka diperlukan suatu kriteria yang memberikan keyakinan pada peneliti bahwa anak tersebut memeang telah memperoleh apa yang dia ucapkan.










BAB II

PEMEROLEHAN MORFOLOGI
2.1  PEMEROLEHAN MORFOLOGI : UMUR EMPAT TAHUN

Perkembangan Morfologi Ahmad tahun keempat akan dilihat dari macam kata yang dipakai dan penurunan kata, baik melalui afiksasi maupun reduplikasi.
1.1.1.      Macam Kata dan Penurunan dengan Afiksasi

Bahasa yang dipakai oleh Ahmad adalah ragam bahasa nonformal, sebagian besar kata yang dipakai oleh Ahmad adalah kata tanpa afiks. Jadi verba yang dipakai misalnya belajar, ambil, kubur, tidur, pakai, laki-laki dan perempuan. Keinformalan ini tampak lagi dengan dipakainya kata-kata penyedap seperti ia, dan dong
No
Pemerolehan Bahasa 1
Pemerolehan Bahasa 2
Makna
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Mesjid
Obeh
Gale
Buet
Tetak
Ngape
Iwak
Kemek
Nyium
Ngambek
Es Klim
Natang
Mah Market
Iye
Mela
Ijo
Oren
Kecik
Berak
Tedok
Ilang
Jingok
Kasyur
Mata
Kacih
Ninggal
Lanang
Betine
Nali
Name
Masjid
Ubah
Seluruh
Buat
Potong
Kenapa
Ikan
Pipis
Cium
Ambil
Es Cream
Binatang
Mini Market
Ia
Merah
Hijau
Orange
Kecil
Beol
Tidur
Hilang
Lihat
Kasur
Masa
Kasih
Mati
Laki-Laki
Perempuan
Sinar
Nama
Masjid
Ubah
Semua
Buat
Potong
Kenapa
Ikan
Buang Air Kecil
Mencium
Mengambil
Es Cream
Hewan
Mini Market
Ia
Merah
Hijau
Orange
Kecil
Buang Air Besar
Tidur
Hilang
Lihat
Kasur
Masa
Kasih
Meninggal
Pria
Wanita
Menyinari
Nama

1.1.2.      Penurunan Verba dengan Afiksasi: Umur Empat Tahun

Ahmad Sama Sekali belum menguasai Pemakaian afiks. Tapi Ahmad dapat membedakan afiks yang redundan dan mana yang tidak berikut adalah beberapa contohnya:

[dikubur]                     “dikubur”
[disitu]                         “disitu”
[dibuat]                       “dibuat”

Dengan konfiks{ke-an}, {-kan}, {meN-}, {-i) tampak makin Ahmad kuasai. Ini terbukti dari kemampuan dia membedakan walaupun afiksasi kosong (zero) ada Ahmad juga melakukan transposisi dari suatu kata
{ke-an}
[kedinginan]                “kedinginan”
[kemesjid]                   “ke masjid”
[keliatan]                     “kelihatan”
[keanasan]                   “kepanasan”
{-kan}
[buatke]                       “buatkan”
[melairkan]                  “melahirkan”
Begitu juga dengan {meN-}
[minjam]                      “meminjam”
[nyium]                        “mencium”
[ngambil]                     “mengambil”
[meliat]                        “melihat”
[mengilang]                 “menghilang”
[meootong]                  “memotong”
{-i}
[warnai]                       “warnai”
[menyinali]                  “menyinari”
[bawaki]                      “bawaki”

1.1.3.      Penurunan Adjektiva dengan Afiksasi: Umur Empat Tahun
Namun ada kalanya verba yang harusya mempunyai afiks justru dimunculkan oleh Ahmad misalnya {dimarah}
Bi                    : Dapat dari mana kucingnya dek?
Ahmad                        : Dapat dari mesjit
Bi                    : Kucingnya masukin dalam rumah saja dek?
Ahmad                        : Dimarah ibu

Disamping Afiksasi yang berwujud, Ahmad juga menerapkan afiksasi kosong (Zero) artinya Ahmad melakukan transposisi dengan memberikan kategori untuk suatu kata. Kata seperti Tahun, dan oren, mela, ijo,bilu




Bi                    : Adek mau kue?
Ahmad                        : Bi... adek mau kue ulang taun [Tahun] dua sama balon
Bi                    : Balonnya warna apa?
Ahmad                        : Oren, mela, ijo, kuning, bilu [Orange, merah, hijau, biru]

Bi                    : Rumah sudah jadi belum dek?
Ahmad                        : Sudah di pasang pintu
                          Ayah tedok diruma situ, tapi idak make kasyur.
                         [Ayah tidur di rumah sana, tapi tidak pakai kasur]

Dari percakapan diatas bahwa Ahmad mampu menggali informasi dan menanyakan sesuatu yang dia tidak tahu, dan memberikan pertanyaan yang dia ingat.
Ahmad                        : Bi... Bawake bi kue adek!
                          ulang taun adek...
Ahmad                        : Bi... ada kucing yang mati bi di kubur kakak zudin...

1.1.2.  Penurunan Kata dengan Reduplikasi: Umur Empat Tahun
Dibandingkan dengan afiksasi, proses reduplikasi untuk menurunkan kategori sintaktik lebih banyak dilakukan oleh Ahmad. Penurunan ini menyangkut verba, adjektiva, dan nomina.

1.1.3.  Penurunan Adjektiva dengan Reduplikasi: Umur Empat Tahun
Pengulangan pada adjektiva juga tampak sering Ahmad dapat membedakan djektiva bisa dengan adjektiva yang diulang terlihat pada contoh berikut.

Pada reduplikasi dari nomina yang terekam pada kata warna-warni pada kalimat berikut.
Bi                    : Adek suka balon warna apa?
Ahmad                        : [Walna-walni oren, ijo, kuning]

1.1.4. Penurunan Kategori Kata yang lain: Umur Empat Tahun

Ahmad dapat pula menurunkan kategori kata yang lain meskipun belum banyak kata Nama - Namanya.
Ahmad                        : bi... kucing ini namenye anggik
                          [bi.. kucing ini namanya anggik]



BAB III

KESIMPULAN

3.1  Kesimpulan Secara Umum

Dari analisis terhadap data yang saya peroleh, saya dapati bahwa konsep universal yang dipatuhi oleh anak dalam pemerolehan bahasa ini tidak merata, tetapi ada cukup banyak pula yang menyimpang, atau lebih tepatnya berbeda pada komponen leksikon baik macam kata, urutan pemerolehan, maupun jumlah kata yang diperoleh Ahmad tampak sangat nyata bahwa dalam pemerolehan leksikon, faktor masukan lingkungan sangat berpengaruh.
            Ragam bahasa yang diperoleh Ahmad pada umumnya bahasa non formal karena bermacam bahasa yang diperkenalkan oleh lingkunganya dengan interaksi yang beranekaragam dan menimbulkan masalah tersendiri dan sangat menarik bagaimana akhirnya anak menguasai tahap dimana dia menguasai bahasa dengan mudah ditelaah oleh lingkungan.

3.2.  Implikasi Teoritis
            Comsky adalah pemuka yang menyatakan bahwa pertumbuhan bahasa pada anak mengikuti program genetik . hal ini berarti bahwa anak sjak lahirnya telah dikaruniai bekal-bekal kodrati, yang kemudian dikembangkan sesuai dengan jadwal genetik pada masing-masing anak.
Pertumbuhan secara genetik ini dinyatakan pula oleh Lennebreg (1967) dengan Hipotese Umur Kritis-nya yang pada esensinya menyatakan bahwa pertumbuhan bahasa seseorang anak itu terjadwal secara biologis. Kita tidak dapat memaksa seorang anak untuk melakukan sesuatu yang bersifat kebahasaan, bila biologi anak tersebut belum memungkinkan.















DAFTAR PUSTAKA
         Asmah, Haji Omar. 1992. “Pertumbuhan dan Perkembangan Bahasa Kanak-kanak
             Melayu.” Dalam Bahasa dan Alam Pemikiran Melayu, Kuala Lumpur: Dewan
             Bahasa dan Pustaka.

         Barnie, Martin D. S. 1988. “Language Acquisition Models.” Dalam bridge, Mass.:
             Harvard University Press.

         Chomsky, Carol.1969. The Acquistition of syntax in Childern from 5 to 10. Cambirdge,
             Mass.: The MIT Press.

         Davidson, Rosalind G. Dan Catherine E. Snow. 1996. “Five-year-olds Interactions with
             Fathers versus Mothers. “First  Language, Vol.16, No.47, June 1996.

         Lenneberg, Eric H., ed. 1964. New Directions in the study of language. Cambrige,
             Mass.: The M.I.T. Perss.

Jumat, 27 April 2012

Proses Morfologi Bahasa dan Sastra Indonesia

3. PROSES MORFOLOGIK

Proses morfologik ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan yang merupakan bentuk dasarnya.
Dalam bahasa indonesia terdapat tiga proses morfologik ialah proses pembubuhan afiks, proses pengulangan dan proses pemajemukan.

3.2 PROSES PEMBUBUHAN AFIKS
Ialah pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya afiks ber- pada jalan menjadi berjalan.
3.3 AFIKS
Afiks ialah suatu satuan gramatik yang terikat yang dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. Misalnya kata minuman

3.4 AFIKS ASLI DAN AFIKS DARI BAHASA ASING
Sebenarnya bagi pemakai bahasa indonesia kata-kata asing yang masuk dalam perbendaharaan bahasa indonesia itu diterima secara keseluruhan, dengan tidak mengingat bentuk serta fungsi asslinya. Itulah sebabnya dalam bahasa indonesia dijumpai kata mengutip, memaklumi,  yang diperhatikan bentuk serta fungsi aslinya, tentu kata-kata tersebut tidak mungkin ada, karena kutip dan maklum dalam bahasa asli nya merupakan bentuk pasif, sedangkan prefiks meN- merupakan prefiks aktif.

3.5 AFIKS YANG PRODUKTIF DAN AFIKS YANG IMPRODUKTIF
Ialah afiks yang hidup . yang memiliki kesanggupan yang besar untuk melekat pada kata-kata atau morfem-morfem. Contoh afiks yang produktif meskipun afiks itu berasal dari bahasa asing ialah –wan. Contoh afiks improduktif misalnya afiks –man, yang hanya terdapat pada kata budiman dan seniman.

3.6 PROSES PENGULANGAN
Ialah pengulangan suatu gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Misalnya kata ulang rumah-rumah dari bentuk dasar rumah.

3.7 MENENTUKAN BENTUK DASAR KATA ULANG
1.      Pengulangan pada umumnya tidak merubah golongan kata
Misalnya :
Berkata-kata (kata kerja) : Bentuk dasarnya berkata (kata kerja)
Minum-minuman (kata nominal) : bentuk dasarnya minuman (kata nominal)
2.      Bentuk dasar selalu berupa satuan yang dalam penggunaan bahasa
Misalnya : Berdesak-desakan : bentuk dasarnya berdesakan, bukan berdesak

3.8 MACAM-MACAM PENGULANGAN
1. Pengulangan Seluruh
Ialah pengulangan seruruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Misalnya :
Buku               : buku-buku
Pengertian       : pengertian-pengertian
2.Pengulangan Sebagian
Ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya.
a.       Bentuk meN-
Melambaikan   : melambai-lambaikan
Mengambil      : mengambil-ambil
b.      Bentuk di-
Ditarik             : ditarik-tarik
Disodorkan     : disodor-sodorkan
c.       Bentuk ber-
Berjalan           : berjalan-jalan
Bermain           : bermain-main
d.      Bentuk ter-
Tersenyum       : tersenyum-senyum
3.      Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks
Pengulangan itu terjadi berassam-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya kata ulang kereta-keretaan.
4.      Pengulangan dengan perubahan fonem
Kata ulang yang pengulanganya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit. Di samping bolak-balik terdapat kata kebalikan, sebaliknya, dibalik, membalik. Dari perbandingan itu, dapat disimpulkan bahwa kata bolak-balik dibentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem.

3.9 PROSES PEMAJEMUKAN
Kata majemuk ialah kata yang terdiri dari dua kata sebagai unsurnya. Disamping itu kata majemuk yang terdiri dan satu kata dan satu pokok kata sebagai unsurnya. Misalnya rumah sakit, meja makan, kepala batu, keras hati, panjang tangan dan masih banyak lagi.

3.10 CIRI-CIRI KATA MAJEMUK
1. Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata
Kata majemuk yan terdiri dari pokok kata semua misalnya terima kasih, lomba lari, lomba lawak, lomba tembak, lomba nyani, lomba renang dan sebagainya.
2. Unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan, atau tidak mungkin diubah strukturnya
Satuan kamar mandi keliatannya sama dengan orang mandi, keduanya terdiri dari kata nominal dan kata kerja. Tetapi bila diteliti benar-benar ternyata kedua satuan itu berbea. Pada orang mandi kata orang dapat diikuti kata itu misalnya, menjadi orang itu mandi, dan kata mandi dapat didahului kata sedang, akan, sudah, menjadi orang itu sedang mandi.

3.11 KATA MAJEMUK DENGAN UNSUR YANG BERUPA MORFEM UNIK
Ada berapa kata kata majemuk yang salah satu dari unsurnya berupa morfem unik, ialah morfem yang hanya mampu berkombinasi dengan satu satuan tertentu. Misalnya kata simpang siur, contoh lain misalnya, sunyi senyap, gelap gulita, terang benderang dan sebagainya.